Kamis, 01 Oktober 2015

Optimisme Keyakinan dalam Ajaran Filsafat SAMKHYA dan BUDDHA



           Didalam Hindu ada enam filsafat yang dikenal dengan sebutan Sad Darsana yaitu tentang enam pandangan filsafat Hindu yang terdiri dari Vaisiseka, Samkhya, Yoga, Purwa Mimamsa, Wedanta. Baca juga artikel sebelumnya Samkhya; Filsafat yang Mengajarkan Optimisme



Terdapat dua kelompok filsafat India, yaitu Astika dan Nastika. Nastika merupakan kelompok aliran yang tidak mengakui kitab Veda, sedangkan kelompok Astika sebaliknya. Dalam Astika, terdapat enam macam aliran filsafat seperti yang dijelaskan diatas. Diluar keenam Astika diatas, terdapat juga Nastika, pandangan Heterodok yang tidak mengakui otoritas dari Veda, yaitu: Buddha, Jaina dan Carvaka.
Filsafat yang muncul di India merupakan bagian yang sejalan dengan agama. Dengan melihat eratnya hubungan agama dan filsafat India, maka filsafat India bersifat religius  dengan menonjolkan aspek-aspek bersifat metafisik, yaitu hakekat ketuhanan dan alam semesta sebagai bahan utama dalam pembahasan.

Dilihat dari sebagian besar kehidupan di India dikuasai oleh cita-cita kerohaniaan atau kejiwaan, maka yang banyak dikemukakan menurut filsafat India adalah suatu orde atau tempat kediaman yang kekal dan abadi bagi manusia, yang tiada lain berada dalam dan bersatu dengan Tuhan, tidak mengalami kelahiran kembali atau samsara (Madja, 2009: 21).
Ajaran filsafat Samkhya dan filsafat Buddha menjadi bahasan dalam hal ini, karena keduanya memiliki kesamaan/kemiripan dari ajaran filsafatnya walaupun dikelompokkan pada tempat Darsana yang berbeda. Dalam sejarah Samkhya diakui sebagai Darsana yang tertua diantara Darsana lainnya. Ajaran ini dibangun oleh Maharsi Kapila, yang menulis Samkhyasutra. Didalam sastra Bhagavatapurana disebutkan nama Maharsi Kapila, putra Devahuti sebagai pembangun ajaran Samkhya yang bersifat theistic. Karya sastra mengenai Samkhya yang kini dapat diwarisi adalah Samkhyakarika yang di tulis oleh Isvarakrsna. Ajaran Samkhya ini sudah sangat tua umurnya, dibuktikan dengan termuatanya ajaran Samkhya dalam sastra-sastra Sruti, Smrti, Itihasa dan purana. Menurut keterangan orang yang pandai dan bijaksana kata Samkhya artinya angka. Sistem angka ini dipakai untuk menyusun urutan kebenaran tertinggi ajaran ini.

Kata Samkhya juga merupakan pemantulan, yaitu pemantulan filsafati. Ajaran Samkhya bersifat realistis karena didalamnya mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena terdapat dua realitas yang saling bertentangan tetapi bisa berpadu, yaitu purusa dan prakrti yang merupakan pokok dari ajaran Samkhya, yaitu azas rokhani dan badani. Dari perpaduan ini maka terciptalah alam semesta beserta isinya.
Buddha/Budhisme adalah satu-satunya pesan religious dan filosofis India yang tersebar luas melampaui batas-batas anak benua asal usulnya itu.  Setelah menaklukan Asia kearah utara dan timur,di wilayah-wilayah yang luas ini Budhisme mendapat banyak pengikut dan membentuk sebuah peradaban yang berdiri tegak selama berabad-abad. Fenomena ini cenderung menutupi fakta bahwa pada dasarnya Budhisme hanya dimaksudkan untuk kebahagiaan segelintir orang. Ajaran filosofis yang berakar pada berbagai prinsip populer yang sangat mempesona ini bukan lah ajaran yang siap dikonsumsi semua orang. Senyatanya, dari banyak ajaran yang muncul selama bermilenium-milenium diseluruh penjuru dunia sebagai solusi atas enigma-enigma kehidupan, Budhisme menempati peringkat yang paling tidak mengenal kompromi, kabur dan paradoksal (Zimmer, 2003 : 448).
Ajaran Buddha sebenarnya bersifat nyata karena Buddha telah mengajarkan bagaimana caranya untuk mengatasi atau mengurangi dukkha, tentang reingkarnasi dan bagaimana caranya mencapai kebahagiaan abadi dari Nibbana. Dengan mengikuti Jalan Mulia Berunsur/berakar dari diri sendiri yang diajarkan oleh Buddha, serta ajaran pencapaian yang beorientasi pada diri sendiri hingga mencapai titik yang dinamakan pencerahan Agung.

Ajaran Filsafat Samkhya Dan Buddha


 Dalam filsafat India yang bersumber dari kitab suci Hindu yaitu Veda, Brahmakanda dan Upanishad - terdapat enam aliran utama yang menjadi cikal bakal aliran-aliran lain dalam masa-masa berikutnya. Keenam aliran atau madzab itu ialah Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Mimamsaka dan Vedanta. Aliran yang akan dibahas sekarang ialah Samkhya, lazim dipasangkan dengan aliran lain yang merupakan penjabarannya dalam bentuk disiplin kerohanian yaitu yoga.
Samkhya berasal dari dua kata yaitu Sam yang berarti bersama - sama dan Khya yang berarti bilangan. Jadi Samkhya  berarti susunan yang berukuran bilangan. Perkataan Samkhya juga berarti pengetahuan yang sempurna (sayag jnana). Sistem filsafat Samkhya kadangkala dinamakan pula dengan istilah Nir Iswara Samkhya tidak menyebut nama Tuhan. Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Kapila adalah karena Tuhan itu sulit untuk dibuktikan. Inilah suatu pernyataan yang menarik untuk diperbincangkan karena Samkhya mengakui adanya Purusa (roh) sebagai asas tertinggi. Cukup banyak penulis yang menyinggung tentang Samkhya dan dapat kita nikmati sampai detik ini, salah satunya adalah Samkhya Karika yang ditulis oleh Iswarakresna.
Sama halnya dengan ajaran Buddha, yang ditekankan dalam ajarannya yaitu bahwa Buddha bukan Tuhan. Tetapi konsep ketuhanan dalam ajaran Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal. Ajaran Buddha ini adalah suatu ajaran yang bertolak belakang dengan ajaran agama Hindu. Ajaran Buddha ini erat kaitannya dengan filosofi Upanishad. Buddha biasanya dibilang bukan agama melainkan suatu ajaran yang bersifat filosofis. Doktrin  yang terpenting pada ajaran ini adalah adanya Reinkarnasi manusia. Reinkarnasi adalah kembalinya manusia tersebut ke bumi setelah dia mati. Pada reinkarnasi ini, manusia dapat kembali hidup, dan menjadi manusia kembali dengan kehidupan yang berbeda, bahkan ada manusia yang menjadi makhluk hidup yang lain, contohnya hewan.
Ajaran Buddha mengajarkan bahwa dunia itu hanyalah ilusi spiritual, tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. Jalan tengah akan membimbing pada siklus kelahiran kembali dan menyatu dalam dunia universal (nirwana). Nirwana bukan berarti penghancuran jiwa dalam arti ruh, tapi hanya penghancuran ilusi yang terpisah, dengan pemikiran bahwa: kita hidup manunggal dalam kehidupan. Berbeda dengan Hindu ajaran budha menolak adanya kasta. Menurut ajaran Budha semua orang derajatnya sama di mata sang Buddha.
Ada empat kebajikan yang diajarkan dalam ajaran Buddha, diantaranya:
        kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagi.
   Sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu
        pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana
        menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar.
Selain ajaran diatas ada delapan ajaran penting dari Buddha untuk terlepas dari penderitaan yaitu :
1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi) Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa) Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (Sammã Vãca) Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã) Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva) Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:
a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun
Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
6. Usaha Benar (Sammã Vãyama) Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.
7. Perhatian Benar (Sammã Sati) Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.
8. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi) Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.
Ajaran Budha bisa dipelajari oleh siapa saja, hal ini dikarenakan dalam ajaran Budha tak mengenal akan adanya kasta. Tak peduli dari ras manapun dan dari bangsa manapun dia, tetap diperbolehkan mempelajari ajaran ini.


Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alasemesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
 

 
Inti ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri. Saat hidup, sakit, dipisahkan dari yang dikasihi dan lain-lain, merupakan wujud penderitaan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Bahkan kesenangan yang dialami manusia, dianggap sebagai sumber penderitaan karena tidak ada kesenangan yang kekal di dunia ini. Kesenangan atau kegirangan bergantung kepada ikatannya dengan sumber kesenangannya itu, padahal sumber kesenangan tadi berada di luar diri manusia. Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh manusia, karena tidak ada sesuatu yang tetap berada. Semua penderitaan disebabkan karena kehausan. Untuk menerangkan hal ini diajarkanlah yang disebut pratitya samutpada, artinya pokok permulaan yang bergantungan. Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan pokok permulaan yang sebelumnya.
Buddha mengajarkan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa-dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran serta realitas sebenar-benarnya. Itu yang menjadikan kemiripan dengan ajaran filsafat Samkhya yang menyatakan semua adalah maya/tidak kekal, dan yang kekal hanyalah rohani/purusa itu sendiri.
Didalam ajaran Samkhya ada tiga sumber pengetahuan yang benar (Tri Pramana). yaitu Pratyaksa (pengamatan langsung), Anumana (didasarkan atas kesimpulan), dan Sabda pramana (pernyataan). Tentang pengetahuan yang didapat atas dasar Sabda dapat dibagi dua yaitu Laukika yang artinya kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya, Waidika yang artinya kesaksian Veda.
Di dalam etika Samkhya tidak membedakan seseorang atas golongannya untuk mempelajari kitab suci Veda. Setiap orang dianjurkan untuk mengendalikan pikiran agar terjadi keseimbangan di dalam dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut Samkhya pribadi yang tampak bukanlah pribadi yang sebenarnya melainkan khayalan, pribadi yang sesungguhnya adalah purusa atau roh itu sendiri.
Dalam mencari pengetahuan yang benar, filosof Samkhya menggariskan tiga metode. Yaitu: (1) Pratyaksa pramana atau pengamatan langsung; (2) Anumana pramana (penyimpulan); (3) Apta Vakya atau penegasan yang pantas, berlandaskan apa yang diajarkan kitab Veda atau ucapan para maharesi. Penekanan pada dualitas dapat dilihat pada ajarannya yang menyatakan bahwa awal terjadinya dunia atau alam semesta ialah purusha dan prakrti. ‘Purusha’ ialah asas rohani, dan prakrti ialah asas kebendaan atau jasmani. Keduanya tanpa awal (anadi) dan tanpa akhir (ananta). Purusha adalah ruh yang jumlahnya banyak, sedangkan prakrti ialah materi yang kacau balau yang tidak berbentuk, jumlahnya tidak terkira banyaknya dan berputar dalam kegelapan. Prakrti mendapat bentuk tertentu setelah bercampur dengan purusha. Dalam kehidupan keduanya tidak dapat dibedakan dan dipisahkan. Jika purusha dan prakrti terpisah maka kehidupan akan berakhir dan kelahiran baru akan mulai.
Karena pada hakekatnya alam semesta ini merupakan serentetan akibat dari suatu sebab. Sebab itu haruslah suatu asas yang bukan roh. Bukan kesadaran dan sebab itu haruslah lebih halus dari akibat yang menimbulkannya. Sebab terakhir itu haruslan suatu asas yang tidak merupakan akibat dari suatu sebab lagi, suatu sebab yang kekal abadi yang selalu menjadi sumber dari terciptanya dunia ini. Sebab yang terakhir inilah yang disebut dengan prakerti dalam ajaran Samkhya. Karena prakerti itu merupakan suatu sebab pertama dari semua yang ada dalam alam semesta ini, ia harus bersifat kekal dan abadi, sebab tidak mungkin yang tidak kekal menjadi sebab yang pertama dari semua yang ada di alam semesta ini (Sumawa, 1996: 139).
Pradana dan Prakerti adalah kekal, meresapi segalanya, tak dapat digerakan dan cuma satu adanya. Ia tak memiliki sebab, tetapi merupakan penyebab dari semua akibat. Prakerti hanya bergantung pada aktifitas dari unsur pokok Guna-nya sendiri (sifat methafisika). Prakerti merupakan ketiadaan kecerdasan, seperti seutas tali yang terdiri dari tiga bagian pintalan yang terbentuk dari tiga Guna (Maswinara, 1999: 156).
Tentang purusha dan prakrti dapat diuraikan seperti berikut. Purusha itu ‘nyata’ (sat) dan dapat dikatakan sebagai suatu kesadaran yang meresapi segala sesuatu dan abadi. Prakrti adalah pelaku kehidupan yang mengandung unsur ruhani dan benda. Arti prakrti ialah yang mula-mula dan yang mendahului semua kejadian. Pra berarti sebelum, dan kri berarti membuat sesuatu yang mirip, yaitu dengan alam maya yang digambarkan oleh Vedanta. Prakrti disebut pradhana, pokok asal segala sesuatu. Bergerak dan berkembangnya prakrti menjadi obyek-obyek hidup yang banyak di alam semesta, disebabkan adanya tiga guna atau sifat (triguna) yang melekat dalam dirinya dan ketiganya bersama-sama melakukan aktivitas tanpa henti. Tiga guna itu ialah Sattva, Rajas dan Tamas.
Sattva ialah kesesuaian, keseimbangan, kebaikan, kepantasan atau kepatutan. Rajas ialah kegiatan, kegairahan, gerak tanpa henti, tindakan maju ke depan. Tamas ialah kelesuan, kebekuan, kekebalan dan kekokohan. Apabila sattva yang berpengaruh, tumbuhlah gejolak, keresahan, gonjang-ganjing dan dinamika. Rajas dinyatakan sebagai raga dvesa yaitu suka dan tidak suka, cinta dan benci, senang dan tidak senang, menarik simpati dan memualkan. Tamas menimbulkan kelesuan, kemalasan, kemasabodohan, kegiatan yang dungu dan ketidakpedulian. Ketiga guna itu ada pada manusia dengan keseimbangan yang berbeda-beda, serta menentukan watak, perangai dan pribadi seseorang. Dengan kata lain Sattva ialah unsur terang atau cahaya. Rajas ialah unsur aktif dan penggerak. Tamas ialah unsur gelap dan berat.
Sebagai sistem filsafat, Samkhya Darsana memiliki banyak pendukung dan penafsir. Di antara tokoh-tokoh yang menonjol sebagai penafsir dan perumus-perumus baru ajaran Kapila Muni ialah Isvara Krisna (abad ke-3 M), Vacaspati Misra (abad ke-9 M), Ganganatha Jha (abad ke-10 M), Anirudha (abad ke-15), Vijnana Bhiksu (abad ke-16 M), Mahadeva Vedantin (abad ke-18 M) dan masih banyak lagi yang lain.



2.2  Teori Evolusi Dalam Filsafat Samkhya Dan Buddha
Sebagai sistem filsafat, Samkhya dan Buddha yang menguraikan masalah evolusi, yaitu perkembangan dan perubahan segala sesuatu yang ada di alam semesta, barangkali dapat dijelaskan sebagai berikut. Samkhya bertolak dari kategori-kategori jamak yang dijumpai dalam kitab Veda dan dikemukakan secara rumit dan kompleks oleh filsafat Nyaya dan Vaisesika. Berdasarkan kategori tersebut kemudian filosof Samkhya menyederhanakannya menjadi dua asas, yaitu purusha dan prakrti. Purusha adalah subyek yang mengetahui segala sesuatu, sedangkan prakrti adalah obyek yang diketahui.
Prakrti yang sering diartikan sebagai alam merupakan material primordial yang merupakan asas dari semua keberadaan obyektif, baik keberadaan jasadi maupun keberadaan jiwani (psikologis). Pakrti adalah obyek yang senantiasa berubah dan merupakan sumber dari alam yang menjadi atau kejadian-kejadian di alam semesta. Di dalamnya semua keberadaan yang ditentukan tersimpan dan tersembunyi sebagai benih potensial bagi terjadinya sesuatu. Ia bukan wujud, tetapi suatu daya atau kekuatan yang selalu dalam keadaan tegang. Ketegangan yang dialaminya disebabkan adanya tiga guna (sifat asas) yang melekat dalam dirinya secara abadi. Ketiga guna itu ialah sattva, rajas dan tamas.
Dengan perkataan lain prakrti adalah tali senar yang menjadi sarana kegiatan atau permainan tiga guna itu. Perpaduan ketiga guna ini melahirkan kesenangan, duka, kebencian, kemalasan dan seterusnya tergantung guna yang mana yang paling kuat. Bila ketiganya seimbang maka tidak ada gerak dari prakrti, alias diam dan hening. Bila keseimbangan terganggu, ketegangan akan muncul dan bermulalah proses evolusi itu.
Keyakinan dalam ajaran Buddha tentang evolusi itu yaitu pada sebuah perubahan dimana diyakini adanya tentang kelahiran kembali setelah kematian, terjadinya karma yang harus dijalani didalam kehidupan, perubahan menjadi yang sempurna hingga mencapai pencerahan/kebahagian yang sejati atau Buddhi. Dalam ajaran Buddha meyakini bahwa semua orang atau mahluk akan nantinya mencapai tingkat kebuddhaan, hanya menunggu waktu saja dan penyadaran akan ego/keinginan. Jika sebuah mahluk mengarah ke-yang lebih baik dalam siklus kehidupannya maka nantinya pada saat habis karmanya pada saat kelahirannya yang terakhir ia akan mencapai penerangan seperti Sidharta Gautama yang mencapai tingkat kebuddhaan. Sebaliknya bila mahluk dalam suatu kehidupannya selalu melakukan perbuatan yang buruk maka ia akan menjalani kehidupa/kelahiran yang terus berulang-ulang hingga nantinya sampai mencapai pencerahan agung seperti Buddha. Inilah yang di percaya sebagai evolusi dalam ajaran Buddha.
Dalam filsafat Buddha ini terdapat satu istilah yang penting yaitu Panna (Pali) atau Prajna (Sansekerta). Dalam Bahasa Inggris: “kebijaksanaan”, makna yang terkandung dalam istilah di atas adalah melihat atau memahami pencerahan/penerangan sempurna itu dilakukan melalui “mata/panna/prajna”. Pengalaman pencerahan (Penerangan Sempurna), Dalam bahasa kias dikatakan bahwa untuk dapat mencapai pantai seberang dari samsara, diperlukan “mata panna/prajna”. Dan pantai seberang itu akan terlihat sebagai Kusunyataan (Ultimatum Reality). Segala sesuatu dilihat sebagai sedemikian atau secara murni dan benar. Hal tersebut akan dicapai oleh siapapun juga yang pikirannya terbebas dari segala sesuatu (sabbattha vimuttamanasa), tidak terikat pada kelahiran dan kematian, tidak lagi hanyut dalam ketidak-kekalan masa lalu-kini-yang akan datang.
Dalam Kitab suci Dhammapada Syair 153-154 yang berisi tentang kemenangan Sang Buddha yang telah bebas dari penderitaan. Beliau telah menemukan “gahakaraka” (pembuat rumah) yang berada di belakang semua kegiatan jasmani dan rohani manusia. Gahakaraka tadi tidak pernah mati, ia senantiasa hidup apabila jasmani (manusia) itu berfungsi. Tubuh ini diibaratkan sebagai budak dari gahakaraka. Melihat gahakaraka tidaklah berarti 'melihat keinginan yang terakhir'. Pengalaman pencerahan (penerangan sempurna) tidaklah menghapuskan sesuatu melainkan melihat atau memandang dengan “mata panna atau praja” sehingga dapat melihat bagaimana gahakaraka membuat “rumah”. “Melihat atau Memandang” merupakan dasar atau landasan untuk mengetahui ajaran Sang Buddha. Hal ini dikatakan sebagai inti filsafat agama Buddha.
Sattwa adalah keseimbangan. Bila sattwa yang menang atau dominan, maka terjadi kedamaian atau ketenangan. Rajas adalah aktifitas yang dinyatakan sebagai raga-dwesa, suka atau tidak suka, cinta atau benci, menarik atau menjijikan. Tamas adalah yang membelenggu dengan kecendrungan untuk kelesuan, kemalasan dan kegiatan yang dungu, yang menyebabkan khayalan atau tanpa perbedaan. Bila sattwa lebih berpengaruh, ia mengatasi rajas dan tamas. Bila rajas lebih berpengaruh, ia mengatasi sattwa dan tamas. Bila tamas yang lebih berpengaruh, ia menguasai rajas dan sattwa (Sivananda, 3003: 196).
Proses evolusi dapat dilukiskan tatanan menurun sebagai berikut: Dari perpaduan purusha dan prakrti lantas muncul mahat. Mahat arti harfiahnya ialah besar atau maha besar. Mahat ini adalah aktualitas yang muncul dari potensi prakrti setelah hadirnya purusha. Dengan munculnya mahat maka evolusi bermula. Mahat merupakan dasar dari buddhi (inteligensia). Dalam proses awal evolusi ini, mahat mengeluarkan aspek-aspek semesta dari prakrti, sedangkan buddhi merupakan padanan dari aspek semesta yang terdapat jiwa manusia. Buddhi bukan purusha, tetapi atman (jiwa individual) yang jumlahnya banyak dan merupakan substansi halus dari semua proses kehidupan mental. Dari buddhi, muncul ahamkara (rasa keakuan) dari segala sesuatu yang merupakan prinsip individuasi.
Ada tiga garis perkembangan yang muncul sebagai akibat dari gerak ahamkara, yaitu sebagai berikut: Pertama, dari berkembang dan berubahnya sattva muncul manas (pikiran yang diekspresikan), disertai lima indera dan organ motoris yang merupakan sarana gerakan atau tindakan. Kedua, dari berkembang dan berubahnya tamas muncul ahamkara (hawa nafsu, rasa keakuan) dan lima unsur halus, selanjutnya lima unsure kasar. Ketiga, rajas mensuplai energi terhadap kedua perkembangan tersebut.
Demikianlah proses evolusi dari prakrti, setelah campur tangan purusha, menjelma 24 kategori yang keseluruhannya adalah sebagai berikut: (a) Prakrti ; (b) Mahat, artinya yang agung, dalam jiwa manusia disebut buddhi, yang perannya ialah mengatur informasi yang diterima dari indera. Buddhi (budi) disebut juga sebagai common sense, akal sehat; (c) Lima organ indera - 5 kategori; (d) Lima organ motoris atau penggerak tubuh: alat bicara, tangan, kaki, alat pelepasan dan alat perkembangan tubuh - semuanya 5 kategori; (e) Lima unsur halus sebagai padanan panca indera, yaitu obyek penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pencecapan; (f) Lima unsur kasar yang berasal dari lima unsur halus, yaitu ‘ruang’ dari penglihatan, ‘api’ dari penglihatan, ‘udara’ dari perabaan, ‘air’ dari pencecapan dan ‘tanah’ dari penciuman - semuanya 5 kategori. Mahat muncul langsung dari alam; (g) Ahamkara, prinsip ego muncul dari mahat sebagai akibat kerja tamas.
Atman adalah pribadi yang dialami dan mengalami, diri yang dibatasi oleh jasmani dan pancaindera. Ia merupakan bagian dari alam dunia. Setiap atman dalam diri jasmaninya memiliki tubuh halus yang dibentuk dari sarana mental. Pancaindera termasuk ke dalam kategori tubuh halus. Ada pun unsur halus yang ada pada alam sebagai akibat dari prakerti memiliki tiga guna juga seperti prakrti. Karena kehadiran purusha maka atman atau diri individual yang empiris terdiri dari dua perkara, yaitu roh yang merupakan wakil dari purusha dan badan jasmani yang merupakan aktualisasi prakrti.

2.3  Aktualisasi Filsafat Samkhya Dan Buddha Umat Hindu Bali
Agama Hindu dan Buddha diduga memiliki konsep ateisme (terdapat dalam ajaran Samkhya dan ajaran Buddha) yang dianggap positif oleh para teolog/sarjana dari Barat. Samkhya merupakan ajaran filsafat tertua dalam agama Hindu yang diduga menngandung sifat ateisme. Filsafat Samkhya dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan, melainkan karena pertemuan Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namun tidak memiliki penyebab. Sama halnya dengan ajaran filsafat Buddha yaitu tidak pernah menyebut/membicarakan Tuhan, karena ajaran in lebih beorientasi kedalam diri untuk mencapai pencerahan agung. Oleh karena itu menurut filsafat Samkhya, Tuhan tidak pernah campur tangan. Ajaran filsafat ateisme dalam Hindu tersebut tidak ditemui dalam pelaksanaan Agama Hindu Dharma di Indonesia, namun ajaran filsafat tersebut (Samkhya) merupakan ajaran filsafat tertua di India. Ajaran ateisme dianggap sebagai salah satu sekte oleh umat Hindu Dharma dan tidak pernah diajarkan di Indonesia.
Didalan ajaran agama Hindu dan Buddha di Indonesia dan di Bali pada khususnya, aktualisasi atau penerapan dari ajaran Samkhya diwujudkan dengan pemujaan-pemujaan seperti pemujaan pada lingga-yoni sebagai perwujudan dari purusa dan prakerti yang merupaka simbol dari penciptaan alam semesta atau perwujudan Tuhan itu sendiri. Dan untuk agama Buddha memuja Stupa dan Patung Buddha sebagai simbol penghormatan terhadap ajaran-ajaran dari Buddha. 
Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut: ”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.Artinya: Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).
 Didalam perkembangan ajaran Samkhya di Bali tidak terlepas dari sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia  dan demikian juga merupakan kelanjutan dari perkembangan agama Hindu di India. Sejarah perkembangan agama Hindu di Bali diduga mendapat pengaruh dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masuknya agama Hindu di Bali diperkirakan  sebelum abad ke-8 Masehi, karena terbukti berupa gambar dan cerita yang dipahat pada prasasti yang ditemukan didesa Pejeng, Gianyar yang berbahasa Sanskerta. Bila ditinjau dari bentuk huruf diduga sejaman dengan  meterai tanah liat yang memuat mantra Buddha yamg dikenal dengan “Ye te mantra”, dan diperkirakan berasal dari tahun 778 Masehi.pada baris pertama dalam prasasti tersebut menyebutkan kata  Sivas” atau lingga-yoni yang merupakan perwujudan dari purusa dan prakrti yang merupakan proses terciptanya alam yang oleh para ahli yaitu Dr. R Goris menduga bahwa dari sana merupakan awal dari terbentuknya/adanya radaya atau Sekte yang berkrmbang di Bali (http://id.wikipedia.org./wiki/sejarah hindu bali,2011).
Agama Buddha tidaklah asing bagi masyarakat Bali, karena di pulau ini pernah tercatat berkembangnya agama Buddha. Catatan ini membuktikan Agama Buddha pernah menjadi salah satu agama masyarakat Bali dan membuktikan pula bahwa agama Buddha memiliki landasan filosofi moral cinta kasih yang universal sehingga mampu hidup berdampingan dan menyatu dengan agama-agama (sekte-sekte) lain secara harmonis.
Agama Buddha di Bali dikatakan telah bersatu dengan agama Hindu atau yang disebut dengan Siwa, mencakup Brahma, Wesnawa, Indra dan lain-lain, secara singkat disebut Hindu-Bali, yaitu agama Hindu yang berkembang di Bali. Sugriwa (dalam rema, 2011: 23) mengatakan, kiranya pendapat ini sangat penting untuk ditiru pada zaman sekarang, bahwa tujuan penyatuan agama Buddha dan Hindu adalah untuk mempersatukan kebangsaan. penyatuan ini berhasil karena filsafat Buddha dan Hindu itu memiliki kesamaan. Karena adanya sikap mengutamakan persatuan bangsa, mencakup semua golongan, maka inisiatif penyatuan ini adalah suatu yang amat penting. Sebagai bukti bahwa agama yang diturunkan Tuhan memiliki tujuan yang sama, sehingga filsafatnya pun memiliki kesamaan, kesamaan ini karena telah mengalami penyaringan pemikiran dan pengolahan pada zaman kerajaan di Jawa Timur seperti jaman raja Krta Rajasa, Airlangga, Dharmawangsa Teguh, sehingga dalam berbagai naskah di Bali dijumpai penyatuan tersebut. Seperti pernyataan Sugriwa (dalam Rema, 2011: 24) berikut.
Agama Budha di Bali adalah aliran dari Jawa Timur dahulu yang berlainan sedikit dengan keadaan agama Budha ditempat lain, terutama di India. Agama budha di Bali telah dan dapat dipersatukan dengan agama Siwa termasuk Brahma, Wesnawa, Indra dan bagian-bagianya yang lain yang disebut dengan singkat dengan nama : Hindu-Bali yaitu agama Hindu yang berkembang di Bali. Hal ini dapat dicapai dari dua jurusan yaitu : 1. untuk mempersatukan kebangsaan dan 2. memang filsafatnya sama.

Pernyataan I gusti Bagus Sugriwa sejalan dengan yang tertuang didalam “Kakawin Sutasoma” gubahan Empu Tantular membuktikan adanya sinkritisme antara agama Hindu dengan agama Buddha, yang berbunyi;
“Hyang Buddha tanpahi Civa Raja deva, rvanekadhatu vinuvus, vara-Buddha vicya, bhinneki rakya ring apan kena parvvanosen, mangka jinatva lavan Civatatva tunggal, bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrva”

Terjemahan :
Dewa Buddha tidak berbeda dari Civa, Mahadewa di antara dewa-dewa,  keduanya dikatakan mengandung banyak unsur; Buddha yang mulia adalah kesemestaan, bagaimanakah mereka yang boleh dikatakan tak terpisahkan dapat begitu saja dipisahkan menjadi dua? Jiwa Jina dan jiwa Civa adalah satu. Mereka memiliki ciri-ciri berlainan, tetapi mereka adalah; dalam Hukum tidak terdapat dualism (Kern. J.H.C dan W.H. Rasser, 1982: 26).
Hal ini menandakan bahwa pengaruh Buddha sangat besar terhadap agama Hindu di Indonesia dan Bali khususnya, baik Hindu bersifat Saiwaistis maupun Hindu yang Waisnawaistis, karena meurut J.H.C. Kern dalam bukunya Ҫiva Dan Buddha” menyebutkan bahwa Wisnu dan Siwa adalah satu, seperti Buddha dan Siwa adalah satu sesuai dengan dengan apa yang disebutkan oleh Empu Tantular dala Kakawin Sutasoma tersebut. Menyikapi isi Kakawin Sutasoma, maka J.H.C. Kern menyebutkan bahwa Buddha sama dengan Wisnu, karena Buddha disamakan dengan Hari, sedangkan Hari adalah nama lain dari Wisnu, disamping itu Buddha Mahayana tidak pernah mengingkari bahwa unsur-unsur Buddhisme berasal dari unsur-unsur Wisnuis (Kern. J.H.C dan W.H. Rasser, 1982: 26).
Hal ini juga diperkuat oleh Kitab Purana yang menyebutkan bahwa Buddha adalah Awatara Wisnu. Sehingga dalam sinristisme antara Hindu dan Buddha di Indonesia lebih-lebih Buddha yang telah kena pengaruh Tantrayana sangat kental sekali. Bahkan pengaruh Buddha tidak hanya di jawa, namun juga sampai ke Bali, dengan berbagai bukti-bukti peninggalan stupika-stupika dan patung-patung Buddha di Pura Goa Gajah dan Pura Mengening di Tampak Siring, arca Boddhisatwa Padmapani di Pura Galang Sanja, Pejeng dan lain-lainnya.
Menurut Dr. W.F. Stutterheim (dalam Sastra, 2008: 218), bahwa aliran Buddha Mahayana sudah ada di Bali pada abad ke 8 Masehi sehingga ajaran Saiwa Siddhanta Indonesia merupakan perpaduan ajaran Saiwa Gama, Waisnawa Gama, Tantrayana, Saktha, Buddha Mahayana, Bhuwana Kosa, Whraspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Mahajnana, Tattwajnana, Jnanasiddhanta dan lain-lainnya. Konsep inilah yang kini diwariskan oleh Hindu di Indonesia, sedangkan pada saat prakteknya dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh umat Hindu khususnya di Bali.

Sama halnya dengan ajaran filsafat Buddha, yang berkembang di Bali dalam ajaran filsafat Samkhya yaitu kesaman atau kesetaraan antara Purusa dan prakrti atau antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu, dalam Agama Hindu yang disebut sebagai pemimpin adalah seseorang yang memiliki karakter atau sifat/bakat kepemimpinan. Terkait dengan sifat/karakter atau bakat, kitab suci Hindu menyebutnya sebagai varna. Dimana kata varna yang berasal dari bahasa Sanskerta berasal dari urat kata “Vr” yang artinya pilihan bakat dari seseorang (Titib, 1996: 10). Varna yang memiliki bakat kepemimpinan yang menonjol disebut ksatriya yang berarti memberi perlindungan. Varna ini tidak membedakan antara laki dan perempuan, juga bukan pada faktor keturunan, tetapi lebih pada sifat, bakat dan kemampuan. Sifat, bakat dan kemampuan ini merupakan unsur perpaduan purusa dan prakerti.
Di dalam ajaran filsafat yang berkembang di Bali tentang etika Samkhya tidak membedakan seseorang atas golongannya untuk mempelajari kitab suci Veda. Setiap orang dianjurkan untuk mengendalikan pikiran agar terjadi keseimbangan di dalam dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut Samkhya pribadi yang tampak bukanlah pribadi yang sebenarnya melainkan khayalan, pribadi yang sesungguhnya adalah purusa atau roh itu sendiri.
Tujuan akhir dari ajaran Samkhya sama dengan ajaran Buddha yaitu adalah kelepasan, hanya dari segi cara pandangnya dan objeknya saja yang membedakan. Samkhya mengajarkan Kelepasan dapat dicapai oleh seseorang bila ia menyadari bahwa purusa tidak sama dengan alam pikiran, perasaan dan badan jasmani. Bila seseorang belum menyadari akan hal itu, maka ia tidak akan dapat mencapai kelepasan. Akibatnya ia mengalami kelahiran yang berulang-ulang (samsara/punarbhawa). Jalan untuk mencapai kelepasan adalah melalui pengetahuan yang benar, latihan kerohanian yang terus-menerus untuk merealisasikan perbedaan purusa dan prakerti dan cinta kasih terhadap semua mahluk (tatwam asi). Dengan demikian Samkhya menekankan pada jalan jnana dalam wujud wiweka dan kebijaksanaan untuk melepaskan purusa dari jebakan prakerti (tri guna).





III.  Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat digarisbawahi beberapa hal sebagai sebuah kesimpulan, yaitu bahwa ajaran filsafat Samkhya dan filsafat Buddha adalah salah satu sistem filsafat India,yang merupakan dua hal yang berbeda tetapi memiliki kesamaan dalam ajaran filsafatnya. Samkhya dikelompokkan kedalam Astika (ortodok) dan Buddha dikelompokan kedalam Nastika. Jika dilihat dari bentuk katanya, jadi secara harfiah Samkhya berarti bilangan bersama-sama. Kata Samkhya digunakan dalam Sruti dan Smerti, dimana masing-masing digunakan dalam pengertian pengetahuan dan tindakan, sehingga kata Samkhya ini juga memiliki arti pengetahuan yang benar. sistem ini memberikan 25 prinsip terjadinya alam semesta setelah dua asas yaitu purusa dan prakerti sehingga berkembanglah sebagai penyusun alam semesta dan tubuh manusia itu sendiri.
Meskipun Samkhya kadangkala dikatakan sebagai ajaran yang bersifat atheistic namun Samkhya menggunakan Veda sebagai otoritas tertingginya. Samkhya menggunakan Veda sebagai dasar pengembangan kebenaran Hindu. Selain Veda, Samkhya juga menggunakan Chandogya Upanisad, Prashna Upanisad, Katha Upanisad, dan Svetasvatara Upanisad. Dan yang tidak kalah penting dalam ajaran Samkhya adalah Mahabharata yang termuat dalam kitab Bhagawadgita.
Tujuan akhir dari ajaran Samkhya dan Buddha adalah kelepasan/kebebasan tertinggi (pencerahan agung). Kelepasan dapat dicapai oleh seseorang bila ia menyadari bahwa purusa tidak sama dengan alam pikiran, perasaan dan badan jasmani tidak kekal. Jadi dalam ajaran filsafat Samkhya dan Buddha yang di aplikasikan sebagai suatu kebijakan dalam kehidupan yaitu merupakan penyadara akan pentingnya pemahaman dan pelaksanaan dari ajaran tersebut sehingga baik dalam bersikap dan bertingkah laku yang baik di masyarakat dan pada akhirnya menuju kepada arah pembebasan dari ikatan lahir dan batin.



DAFTAR PUSTAKA
Kern, J.H.C. dan W.H. Rassers. 1982. Ҫiva Dan Buddha (Dua Karangan Tentang Ҫivaisme dan Buddhisme di Indonesia). Jakarta: Djambatan.
Madja, I Ketut. 2009. Darsana (Bahan Ajar). Denpasar: IHDN.
Maswinara, I Wayan. 2006. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha). Surabaya: Paramita. 
Rema, I Nyoman. 2011. Penyatuan Siwa-Buddha Pemikiran I Gusti Bagus Sugriwa Tentang Agama Hindu Bali. Denpasar: Program Pascasarjana IHDN Denpasar & Sari Kahyangan Indonesia.

Sastra, Gde Sara. 2008. Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini (Bagian dari Konsep Saiwa Siddhanta Indonesia). Denpasar: Pustaka Bali Post

Sivananda, Sri Swami. 2003. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya: Paramita.
Sumawa, I Wayan dan Tjkorda Raka Krisnu. 1996. Materi pokok Darsana (Modul). Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha. 
Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci (Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita.
Zimmer, Heinrich. 2003. Sejarah Filsafat India. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://id.wikipedia.org./wiki/sejarah hindu bali,2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar